Edisi Sabtu 23 Maret, 2019
by. Hetang J. Asso
Jalan Cerita Pendirian Yayasan
Pada tahun 2016 saya sebentara studi di lembaga STFT GKI I.S. Kijne dan saya tidak tahu menahu tentang dinamika sosial di Kabupaten Yahukimo, daerah Siep Asso Distrik Mugi dan Yogosem. Saya hanya sering dengar kabar saja melaui cerita orang disekitarku. Pada saat itu menjadi satu kesempatan yang baik bagiku dan tergeraklah hati untuk menghadiri natal bersama orang tua dan sanak suadarku dikampung halaman. Saya satupun belum punya konsepsi tentang setrategi-seterategi dan siknyal altenatif pengendalian masalah tersebut. Ketika itu sesampailah disana, apa yang menjadi bayangan cerita memang benar dan sekolah-sekolah di distrik Mugi penuh dengan sarang laba-laba dan menutupi hutan liar. gedung-gedung yang tak berdaya guna dan menjadi kesalan yang mengecewakan kenapa harus begini. Hal ini walapun para petugas lapangan atau pimpinan sekolah maupun para peserta pendidiknya sudah ditugaskan oleh PEMDA. Oprasionalnya berjalan lancar. Tunjangan berjalan lancar. Dls.
Disini menjadi titik temu ideologi yang mengguga hati saya yang awalnya tertutup itu, pada akhirnya juga menjadi open window. Pada saat itu banyak konsep yang mencul untuk membuat langka-lngka alternatif dan ide yang muncul pada saya adalah harus buka ruang diskusi segi tiga setelah memotret keadaan sosial dilingkungan masyarakat.
Setelah bulan Desember berakhir, saat kami telah tiba dibulan
Januari tahun 2017. Sini saya memulai berperan sesuai dengan langka-langka yang
tela mengukir sejak desember 2016. Saya hanya memiliki satu konsep apa yang
nantinya akan menjadi inputnya dari pada semua upaya itu. Saya pada saat itu
melaui rekomendasi lisa berdasarkan hasil diskusi bersama Badan Pengurus Ikatan
Wusihun di Kota studi Wamena, telah mengeluarkan undangan melaui via SMS dan
sejumlah senior maupun toko hadir dan mengadakan pertemuan di kediaman Bapak
Yoni Siep, S.PDK. Disela sela ini telah melahirkan berbagai ide-ide cemerlang
sebagai unjuk kepedulian terhadap dinamika sosial Pendidikan. Pada kesempatan
itu kami langsung saja membentuk tim relwan dan saya langsung ditunjuk sebagai
kordinator tim penggerak.
Saya tanpa tahu menahu dan yang ada dibenak saya adalah akan
membangun relawan tanpa lembagai hukum yang jelas tetap rasa kegitan itu
positif dan harus melangkahi. Dengan demikian saya langsung saja mengeluarkan
undangan untuk mengadakan pertemuan bersama dengan berbagai pihak. Baik itu
pihak gereja, adat/masyarakat, pemerintah kampung, mahasiswa dan intelektual.
Semua respontif itu menjadi kerinduan bersasama.
Setelah kami mengadakan pertemuan disana, kami kembali lagi
ke kota untuk melengkapi alat penunjang proses belajar mengajar, apa yang
menjadi pembicaraan kami disana, berita itu sudah ada dimeja Dandim 1702/JWY. Puji
Tuhan walaupun saya belum perna ada sinjal satupun kepeda berbagai pihak elemen
pemerintah, saya langsung disambut dan memberi fasilitas untuk membuat sebua
legitimasi hukum yang jelas dan kami mendirikan Yayasan dengan dabel “Sekolah Alam Wusihun Papua”.
Demikianlah sedikit cerita singkat dan lebih lanjutnya kami
akan mengablod dikemudian hari.
Silakan untuk memantau kami bisa kilik disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar